Cicil Emas Bikin Malas

Oleh: Ai Nur Bayinah, Dosen STEI SEBI

Meredupnya investamas karena terus menurunnya harga emas beberapa waktu terakhir ini, tidak menghalangi semangat bank syariah untuk terus memasarkan produk pembiayaan cicil emas kepada masyarakat. Berbekal keuntungan historis yang memukau, pembiayaan yang dikemas dengan akad jual beli (murabahah) sekaligus gadai (rahn) ini, diharapkan dapat menjadi solusi bagi nasabah. Terutama yang ingin memiliki emas namun menghadapi kendala berupa kurangnya dana untuk membeli emas yang dimaksud.

Dengan hanya menyediakan dana sebesar 20% dari harga emas yang diinginkan, nasabah dapat memperoleh emas hingga ratusan gram. Jadi bila nasabah ingin membeli emas 100 gram, dengan harga saat ini misalnya sebesar Rp.480.000,- per gram. Maka untuk mendapatkan pembiayaan cicil emas di bank syariah, nasabah hanya perlu menyetorkan uang sebesar Rp.9.600.000,-. Selanjutnya nasabah membayar angsuran bulanan yang relatif ringan dan tetap dalam jumlah tertentu. Kemudian setelah 2 hingga 5 tahun memperoleh emas seperti yang diinginkan.

sumber gambar : http://www.iberita.com

Berbagai promosi pun dilakukan, mulai dari gratis biaya administrasi, free biaya asuransi, sampai penentuan margin yang kompetitif. Dengan tagline solusi cepat kepemilikan emas, produk ini ditawarkan untuk dapat memberikan kemudahan bagi nasabah. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum akhirnya nasabah mengambil pembiayaan yang substansinya berbasis jual beli ini. Meskipun iklannya sangat menggiurkan karena selalu diawali dengan gambaran kilauan emas yang sebenarnya sekarang sudah semakin memudar.

Di antaranya, pertama masalah jangka waktu pembiayaan. Sangat kontradiktif dengan tawaran sebelumnya (red: yang menjanjikan solusi cepat kepemilikan emas), ternyata pembiayaan ini menetapkan lama cicilan minimal 2 tahun hingga tahun ke-5. Letak kecepatan mememili emas pun menjadi kabur. Cepat bagaimana jika harus menunggu setidaknya 24 bulan sebelum akhirnya emas bisa di tangan. Meskipun mungkin bagi sebagian orang jumlah tahun angsuran ini sangat relatif, dan bank pun memperkenankan percepatan pelunasan jika pembiayaan telah berjalan selama 1 tahun. Namun pastinya syarat dan ketentuan berlaku.

Hal kedua yang perlu disimak adalah penyerahan barang yang dicicil. Biasanya dalam melakukan pembelian barang secara kredit atas suatu barang, seperti cicilan mobil, motor, gadget, hingga peralatan dapur, barang yang dibeli secara kredit diserahkan kepada pengangsur, meskipun pembayarannya belum lunas. Namun dalam cicil emas ini, emas yang diinginkan masih berada di bank dan belum dapat diambil oleh nasabah hingga angsurannya lunas.

Jika pembiayaannya berlangsung selama 5 tahun, maka nasabah belum bisa memegang emasnya hingga membayar cicilan setiap bulan sampai angsuran ke-60. Setelah lunas baru dapat mengambil emasnya. Artinya nasabah membayar barang yang tidak ada di tangannya. Lantas, bagaimana bila sebelum angsuran lunas, pada cicilan ke-30 misalnya, ternyata bank yang bersangkutan dilikuidasi? Maka tidak ada kewajiban bagi bank untuk mengembalikan uang cicilan yang telah dibayarkan nasabah. Karena sifatnya bagi bank pinjaman itu adalah piutang. Artinya secara hukum nasabahlah yang berhutang kepada bank. Sebaliknya emas yang diinginkan juga belum bisa diberikan kepada yang bersangkutan, karena belum sepenuhnya menjadi miliknya. Nasabah juga tidak memiliki payung hukum untuk menuntut kepada pihak lain, seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) misalnya. Sebab, sebagaimana namanya yang dijamin oleh LPS adalah simpanan bukan jenis pembiayaan.

Maka bagian ketiga lainnya yang juga perlu diperhatikan adalah masalah pengikatan agunan. Bagaimana bisa barang yang dicicil tidak diserahkan kepada nasabah peminjam? Sebab produk pembiayaan ini selain menggunakan akad jual beli (murabahah) juga agunannya diikat menggunakan akad gadai (rahn). Dengan akad ini bank memiliki hak untuk memegang jaminan, dan dalam hal ini bank melakukannya dengan menyimpan fisik jaminan atas pembiayaan yang dimaksud. Yakni emasnya.

Agak aneh memang. Baru kali ini bank memberikan pembiayaan berupa barang (berbentuk emas), tapi emasnya tidak diserahkan, dengan alasan digadaikan. Namun uang gadai yang seharusnya diberikan, seperti lazimnya gadai juga tidak diterima dengan alasan sebagai perikatan. Meskipun begitu perikatan semacam ini memang diperbolehkan. Hanya mungkin tidak lazim, seperti yang biasa terjadi. Bagi banyak orang hal ini menjadi sangat tidak menarik. Buat apa mencicil barang yang tidak bisa dipergunakan. Tapi bagi bank, hal tersebut memperkecil bahkan meniadakan risiko (avoiding risk).

Dengan demikian, hal keempat yang paling substantif dari pembiayaan ini adalah motivasi produk. Nasabah kemudian bertanya-tanya, untuk apa bank dengan sangat rajin menawarkan pembiayaan yang cicilannya harus dibayar setiap bulan, padahal nasabah belum menerima apa-apa kecuali gambaran bahwa ke depan harga emas akan semakin tinggi. Di mana realitas gambaran tersebut juga belum tentu terjadi. Karena yang namanya proyeksi tentu tidak bisa dipastikan, dan satu-satunya yang pasti dari produk pembiayaan ini adalah jumlah cicilan (karena sifatnya tetap).

Sebagai bank yang berbasis syariah, sebenarnya masyarakat menaruh banyak harapan agar produk perbankan yang dikeluarkan diharapkan dapat memberikan warna lain yang lebih mensejahterakan bagi semua kalangan. Termasuk memberikan pendidikan kepada khalayak untuk gemar menabung dan berinvestasi. Sebisa mungkin bank syariah diharapkan mampu mendorong sektor ini dengan membiayai modal kerja dan sektor riil secara umum, dibanding konsumtif. Bila pun mesti melakukan pembiayaan yang sifatnya konsumsi, adalah memang untuk konsumsi yang dianggap primer seperti kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan/atau keperluan ibadah. Namun melihat fitur dan operasional produk pembiayaan ini, tampak ketiadaan motivasi pendidikan menabung sebagaimana yang dimaksud. Sebaliknya produk ini justru memproduksi kemalasan dan memanjakan sisi konsumtif masyarakat untuk gemar berutang bahkan untuk hal yang sebenarnya belum terlalu perlu. Hal ini sungguh sangat disayangkan dilakukan oleh bank syariah, yang seharusnya membawa perubahan baru yang lebih baik. Sebab pada bank konvensional pun produk semacam ini tidak ada.

Untuk itu, meskipun secara legal produk ini tidak dilarang, dan bank syariah pun dapat meyakinkan bahwa ke depan produk ini sangat menguntungkan bagi nasabah maupun bagi bank itu sendiri, bank syariah diharapkan lebih bertanggungjawab dalam menelurkan produk-produk perbankan yang dikeluarkan. Agar benar-benar dapat mengejawantahkan visi maupun misi perbankan syariah. Namun demikian, motivasi bank syariah untuk memberi kemudahan kepemilikan emas dengan cara menyisihkan uang sedikit demi sedikit dalam jangka panjang sebenarnya merupakan hal yang sangat baik. Akan tetapi mengemasnya dalam bentuk pembiayaan, nampaknya bukan pilihan yang tepat. Bank mungkin dapat menawarkannya dalam bentuk simpanan berupa tabungan murabahah emas. Meskipun hal ini belum menjadi suatu akad yang lumrah dalam simpanan dana pihak ketiga bank syariah, tetapi pengajuan jenis produk baru ini bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Prosedur pengajuan produk dan akad dapat dilakukan sebagaimana biasa.

Seperti halnya jenis tabungan terikat berupa tabungan pendidikan dan tabungan haji yang sudah dapat ditentukan nilai tabungannya setiap bulan, tabungan murabahah emas ini juga dapat mengikuti fitur dan ketentuan lain yang serupa dengan itu. Misalnya untuk memperoleh emas senilai 50 gram dalam jangka waktu 20 tahun, nasabah harus menabung sebesar 20 ribu rupiah per hari atau 600 ribu per bulan. Nilai yang sama dengan angsuran pada produk pembiayaan cicil emas, namun lebih aman bagi nasabah, karena bila bank dilikuidasi uang nasabah akan kembali. Karena termasuk dalam jaminan LPS. Serta juga lebih aman bagi bank syariah, sebab bila nasabah wan prestasi bank tidak perlu repot-repot menagih karena sepenuhnya emas yang dimaksud adalah tetap milik bank yang dapat digunakan untuk keperluan apapun yang diinginkan oleh bank yang bersangkutan.

STEI SEBI, 30 Mei 2013. 

ainur_iam@yahoo.com;

Follow @AiNur_Bayinah

About these ads

About ii Holillah

Sanguinic-Coleric Person Sangat menikmati something handmade.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s